Rabu, 13 Juni 2012

Produk Pemasaran Promkes


Produk Pemasaran
Bath Salt Aroma Therapy


Di buat untuk memenuhi tugas matakuliah Promosi dan Pendidikan Kesehatan
Dosen Pengampu : Zumrotul Choiriyah, S.Kep.,Ns

Disusun oleh :
Haedar Putra
0101110a37
PSIK B/Semester 2



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2012



PEMASARAN
a.       Produk
ü  Produk Inti            : Bath Salt Aroma Therapy
ü  Produk Nyata        : Pembagian Bath Salt
b.      Price
Pada umumnya masyarakat hanya meminginkan pengobatan yang tidak memiliki efek samping bagi tubuhnya, seperti dalam mengkonsumsi obat-obatan yang bersifat alami yang aman bagi tubuhnya. Jaman sekarang banyak sekali penggunaan obat atau produk-produk yang tanpa harus memikirkan bahan-bahan yang di gunakan dan dapat berakibat fatal bagi konsumennya. Dengan pengobatan alami tidak memiliki efek samping yang cukup besar bagi tubuh manusia, serta pengobatan alami juga tidak menimbulakan kecanduan serta ketergantungan.
Sekarang kebanyakan masyarakat yang menggunakan minyak kayu putih untuk menghilangkan rasa pusing di kepala karena capek setelah beraktifitas seharian, atau yang menggunakan salep pada tubuhnya jika merasa pegal-pegal yang terasa panas pada kulit bahkan lengket, dan bahkan masyarakat pun biasanya lngsung mengkonsumsi obat-obatan. Namun sekarang banyak sekali minyak kayu pitih dalam bentuk kemasan botol, yang memungkinkan botol tersebut bisa saja bocor dan bahkan jika jatuh isi kemasan bisa tumpah.
Kini dengan menggunakan Bath Salt Aroma Therapy masyarakat tidak perlu kawatir lagi dengan kemasan yang mudah tumpah dan bahkan bocor, karena Bath Salt Aroma Therapy ini di kemas dalam bentuk plastik yang anti robek dan bahkan kandungan dari plastiknya sendiripun aman tidak menganduk bahan-bahan kimia yang berbahaya dalam pembuatan plastik biasanya yang tersedia dalam bentuk kasar dan halus.
·           Kandungan dari Bath Salt.
Bath Salt Aroma Therapy ini efektik untuk melawan serangan bakteri dan resistensi obat-obatan serta dapat juga menggantikan bahan pengawet kimia sinetik yang ada pada saat ini.
Dari kandungan Bath Salt ini salah satu bahannya yaitu minyak esensial, yang dimana minyak essensial ini memiliki kekuatan untuk melawan bakteri, dan minyak essensial ini pun sudah di percaya sejak ratusan tahun yang lalu dengan sifat aroma Terapeutik dan antimikroba yang terkandung didalamnya.
·         Cara penggunaan dari Bath Salt
Cara dari penggunaan Bath Salt ini sangatlah muda, hanya dengan menaburkan Bath Salt kedalam bak mandi atau bahkan bisa di bakar dan Aroma Therpynya kembali dalam bentuk asap yang dimana asap bakarnya tidak banyak bahkan sangat sedikit dan kandungan dari asap yang masuk ke dalam tubuh sangat tidak berbahaya bagi tubuh, dan Bath Salt ini bisa juga di rebus dan kemudian masuk kan kain kecilatau pun sapu tangan kemudian di usapkan seleruh tubuh.
·         Harga yang di tetapkan untuk penjualan
Dengan penggunaan yang sangat mudah bagi masyarakat dan dapat di gunakan oleh semua kalangan maka Bath Salt Aroma Therapy ini mematok harga yang pas dengan kantong masyarakat yaitu dengan harga yang relatif murah Rp. 10.000;00.

c.       Place
Tempat penjualan dari Bath Salt Aroma Therapy :
1.      Apotek
2.      Puskesmas
3.      Supermarket

d.      Promotion
Dengan penggunaan dari Bath Salt Aroma Therapy ini yang sangat mudah dan juga memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Anda pasti sudah pernah juga menggunakan aroma-aroma therapy sebelumnya, yang memiliki efek dan manfaat yang berbeda-beda bagi tubuh. Kandungan pengobatan yang menggunakan minyak esensial biasanya diserap oleh kulit atau di hirup.
Bath Salf Aroma Theraphy ini juga bermanfaat untuk menghilangkan pegal-pegal, letih, lesu, mengurangkan resiko terkenanya varises kaki, mencegah kaki pecah-pecah dan melancarkan peredaran darah.
Ada banyak jenis aroma therapy yang sering du gunakan oleh masyarakat yang memiliki manfaat dan kandungan dan bahkan dalam pengobatan alternatif atau dalam penggunaan aroma therapy dalam bentuk spa yang terkandung dari berbagai macam tanaman, dan berikut adalah bahan-bahan yang terkandung dalam Bath Salt Aroma Therapy serta kegunaan dan mafaatnya bagi tubuh kita, yaitu :
ramuan jamu tradisional
·         Jasmine tea, digunakan untuk menenagkan tubuh dan pikiran, tetapi sebaiknya tidak di gunakan selama kehamilan atau adanya kulit yang sensitif.
·         Mandarin, bisa menenangkan, memberikan sensasi kedamaian dalam diri kita, memberi relaksasi yang santai, dan bisa juga digunakan oleh anak-anak.
·         Tea Tree, dapat digunakan untuk mengobati pilek, sakit kepala, tenggorokan, infeksi kulit dan gigitan serangga.
·         Sandalwood, dapat digunakan sebagai penyeimbang dalam diri, aprodisiak, antiseptik, bisa juga untuk pengobatan batuk dan sakit tenggorokan.
·         Lemin, bisa melegakan, aroma yang segar memberi semangat serta meningkatkan mood.
·         Lavender, bisa digunakan untuk antiseptik, menenangkan dan memberi relaksasi.
·         Grapefruit, merilekskan otot-otot, bisa juga digunakan untuk refleksi, refreshing, detoksifikasi, pembersih, untuk melegahkan saraf.
·         Eucaliptus, bisa digunakan sebagai anti septik, obat bengkak dan bisa juga membantu masalah pernafasan.
·         Clary sage, memberi ketenangan pada pikiran, den merelaksasikan tubuh.
·         Carnomile, bisa membuat rileks dan menenangkan serta menangkal radial bebas yang bisa menyebabkan panuan.

Bath Salt Aroma Therapy ini tidak hanya untuk digunakan sebagai relaksasi pada tubuh saja bahkan bisa digunakan dalam kondisi apapun, seperti dalam keadaan sakit, flu, atau karna cuaca yang kurang bersahabat dengan tubuh kita.
Bath Salt Aroma Therapy ini dapat digunakan kapan saja dan dimana saja, dalam kemasan yang sederhana dan menarik dengan harga yang sangat relatif murah dan terjangkau bagi semua kantong masyarakat, memberikan maanfaat yang sangat banyak bagi tubuh kita dalam kondisi yang kurang fit dalam melakukan aktifitas sehari-hariyang telah menguras tenaga yang ekstra banyak. 

Cara Berkomunikasi terhadap Toodler (praktik IKD 2 Roleplay


PRAKTIK IKD 2 ROLE PLAY

Kelompok                   : 2
Tema                           : Toddler Pemberian Obat.
Nama Kelompok
1.      Ahmad Fahrul Rozzi         (010111a004) Sebagai Perawat
2.      Haedar Putra                     (010111a037) Sebagai Ayah
3.      I Ketut Agus Hida P         (010111a049) Sebagai Perawat

Tahap Komunikasi
Bentuk
Percakapn
Sikap
Analisa

















Tahap
Perinteraksi




















Tahap Orientasi
P : Selamat pagi bapak Haedar.
K : Selamat pagi mas perawat.
P : Bagaimana kabar anaknya pak, apa sudah baikkan
K : Baik mas, sudah agak mendingan dari kemarin.
P : Saya perawat Ozzi dari Ngudi Waluyo Ungaran yang akan memberikan obat kepada pasien yang ernama Sahrul, umur 2 tahun dikamar Dahlia no. 1A, dengan alamat Desa Nyatnyono RT.04, RW.03 ungaran, dengan pemberian obat terhadap anak bapak, bener bapak ?
K : Ya mas datanya bener.
P : (kemudian saya menanyakan data orang tua) Benar ini dengan bapak Haedar ayah dari pasien yang bernama Sahrul ?
K : Saya mas perawat.
P : Alamat Desa Nyatnyono RT.04,RW.03 pekerjaan perawat. Maaf bapak minta tolong di sebut nama istri bapak sebagai Ibu pasien, karena ibu tidak ada disini sehingga kami belum memiliki data ibu pasien.
K : Ya, iastir saya bernama Nitha, bekerja di perusahaan Coca-Cola, kebetulan istri saya lagi bekerja, makanya belum datang kesini.
P : O.... iya bapak. Terima kasih datanya pak.
K : ya mas perawat sama-sama.
P : sekarang saya akan memberika obat kepada ana bapak, obatnya penurun panas badan.
K : iya mas.
P : saya akan melakukan tindakan ini sekitra 5-10 menit pak, tempatnya lebih baik dihalaman saja pak, supa kita dapat suasana yang nyaman buat anak bapak.
K : Iya mas,  bagus juga biar anak saya tidak jenuh berada di ruangan ini mas.
Sikap Hormat
Perawat harus memiliki sikap hormat kepada pasien, karena perawat harus mampu menunjukan sikap kepedulian  / perhatian, rasa sukadan menghargai pasien dan keluarga, sikap hormat yang di lakuka kepada pasien dapat di lihat ke arah pasien saat komunikasi, memberikan perhatian, senyum disaat yang tepat, menyapa pasien. Jika perawat tidak mempunyai sikap hormat maka pasien dan keluarga merasa tidak dihormati atau tidak merasaperhatian kepada pasien dan perawat karena sebagai perawat harus mampu memberikan rasa hangat dan peduli kepada pasien dan keluarga. Perwat harus mempunyai sikap empati, karena perawat harus menempatkan diri pada posisi pasien atau pun orang tua, perawat harus mampu menjadi pendengar yang baik oleh pasien atau komunikan.










Sikap Empati
Dengan tujuan untukdimengerti agar pasien merasa keakraban atau simpati dari seorang perawat dan perawat harus mampu untuk merasakan atau memposisikan diri jadi apa yang pasien ceritakan, agar pasien merasakan tidak akan diperdulikan atau tidak direspon dan apa tanggapan dari si pasien atau keluarga

Tahap
Kerja
P : Iya Bapak, selamat pagi adik Sahrul, salam kenal dulu ya sama mas, adik bentar ya, Mas periksa dulu ya sebentar, kalau sudah di periksa kita main di taman, sambil minum obat ya.
K : Ya Mas.
P : Permisi ya adik mas mau periksa dada adik dulu pakai alay ini, tidak sakit kok, sebentar adik boleh pinjam alatnya mas.
K : Bagaimana Mas badan anak saya?
P : Ya bapak, anak bapak cuma demam saja, hanya perlu istirahat dan minum obatnya secara teratur, pasti aak bapak akan sembuh.
K :  (menganggukkan kepala).
P : Sekarang mas mau tanya sama adik Sahru, mau minum obat tau mau minum di kamar?  Kalau di taman minum obatnya sama mas, nani mas gendong adik sahrul, mau kan ?
T : (menganggukan kepala).
P : Ya sudah, ayo adik Sahrul mas gendong. Adik ini minumannya tidak pahit kok, adik mau kan?
 T : Ya mas, Saya mau (dengan nada pelan).
P : Iya sudah, ini diminum obatnya, sebentar kalau sudah selesai minum obat kita main bareng lagi yha, Mas juga punya hadiah buat Sahrul, karena adik sudah mau minum obat.
T : Iya mas kita main (sambil tersenyum).
P : emmm,, sekarang adik waktunya untuk istirahat sebentar, nanti kita lanjut lagi mainnya, sekarang mas antar adik ke kamar yha.
T : Ya mas.










Sikap
Kesejatian
Perawat harus mempunya sifat perhatian karena perawat harus mampu mempengaruhi atau menasehati pasien untuk mendapatkan apa yang akan menjadi tujuan dalam komunikasi. Karena perwat harus mampu menahan diri, atau tidak langsung berbicara apa adanya (harus mampu memanipulasi) serta harus bisa membawa pasien dalam keadaan kesiapan.  Jika pasien tidak mempunyai sikap kesejatian maka perawat tidak akan mendapatkan apa yang menjadi tujuan dalam komunikasi serta biasa di pertanyakan kredibilitas.









Sikap
Kongkret
Perawat harus mampu mempunya sikap kongkret karena perawat harus mampu mempertahankan respon terhadap pasien dengan memberikan penjelasan yang akurat dengan memberikan visualisasidengan benda atau gambaran agar tidak takut dengan apa yang nanti diberikan dan mendorong pasien untuk memikirkan masalah spesifik. Jika perawat tidak mempunyai yang kongkret pasien bisa saja memberontak dan tidak mau melakukan pengobatan karena memikirkan hal-hal yang buruk atau parno terhadap pengobatan yang akan di berikan.








Tahap
Terminasi
P : Sekarang waktunya adik istirahat ya, mas sebntar lagi datang ke sini buat periksa adik lagi terus kita minum obat lagi, biar adik bisa sembuh dengan total, selamat istirahat yha adik. Semoga cepat sembuh.
T : Iya mas.
P : Bapak, saya sudah selesai memeriksa Sahrul dan sudah saya berikan juga obat, dan sekarang Sahrul harus istirahat dulu biar dia benar-benar sembuh total, 2 jam lagi saya atau perawat yang lainnya akan kembali lagi untuk mengecek keadaannya Sahrul dan memberinya obat. Terima kasih bapak atas kerja samanya dan waktunya, selamat siang bapak saya pamit dulu ke ruangan saya.
K : Sama-sama Mas.


Falsafah Dan Paradigma Keperawatan


keperawatan
Definisi : merupakan pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktek keperawatan.

Esensi falsafah keperawatan :
memandang pasien sebagai mahluk yang holistic, yang harus dipenuhi segala kebutuhannya , baik biologis, psikolois, social dan spiritual yang diberiakan secara komprehensif
pelayanan keperawatan secara langsung dngan memperhatikan aspek kemanusiaan
setiap pasien berhak mendapatkan perawatan tanpa membeddakan suku, kepercayaan, status social, agama dan ekonomi
pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari system pelayanan kesperawatan
menjadikan pasien sebagai mitra yang aktif

Paradigma keperawatan
Definisi
Paradigka keperawatan menurut Masterman, 1970 adalah pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan

Paradigma keperawatan menurut Gaffar, 1997, adalah cara pandang yang mendasar atau cara kita melihat, memikirkan, memberi makna, mmenyikapi dan memilih tindakanterhadap berbagai fenomena yang ada dalam keperawatan. Dengan demikian paradigma keperawatan berfungsi sebagai acuan atau dasar dalam melaksanakan praktek keperawatan yang bersifat professional.

Komponen Paradigma Keperawatan :
1. Manusia
2. Kesehatan
3. KeperawatanLingkungan
A. PENDAHULUAN
Praktek keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan system pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang – undangan keperawatan (Nursing Act), dimanapun perawat itu bekerja (PPNI, 2000).Keperawatan hubungannya sangat banyak keterlibatan dengan segmen manusia dan kemanusiaan, oleh karena berbagai masalah kesehatan actual dan potensial.    Keperawatan memandang manusia secara utuh dan unik sehingga praktek keperawatan membutuhkan penerapan ilmu Pengetahuan dan keterampilan yang kompleks sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan objektif pasien/klien. Keunikan hubungan perawat dan klien harus dipelihara interaksi dinamikanya dan kontuinitasnya.
Penerimaan dan pengakuan keperawatan sebagai pelayanan professional diberikan dengan perawat professional sejak tahun 1983, maka upaya perwujudannya bukanlah hal mudah di Indonesia. Disisi lain keperawatan di Indonesia menghadapi tuntutan dan kebutuhan eksternal dan internal yang kesemuanya membutuhkan upaya yang sungguh – sungguh dan nyata keterlibatan berbagai pihak yang terkait dan berkepentingan.
B. FALSAFAH KEPERAWATAN
1.      Pengertian falsafah
Falsafah adalah pengetahuan dan penyelidikan denga akal budi mengenai sebab-sebab, azas-azas, hukum,dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu (WJS Poerwadarminta.
Falsafah keperawatan adalah pandangan dasar tentamg hakikat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktik keperawatan.
Falsafah Keperawatan bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan.. Keperawatan menganut pandangan holistik terhadap manusia yaitu kebutuhan manusia bio-psiko-sosial-spiritual.
Kegiatan keperawatan dilakukan dengan pendekatan humanistik, dalam arti menghargai dan menghormati martabat manusia, memberi perhatian kepada klien serta, menjunjung tinggi keadilan bagi sesama manusia.
Keperawatan bersifat universal dalam arti tidak membedakan atas ras, jenis kelamin, usia, warna kulit, etik, agama, aliran politik, dan status sosial ekonomi. Keperawatan adalaFalsafah keperawatan mengkaji penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingintahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasakan pada alasan logis daripada metoda empiris.
Falsafah keperawatan menurut Roy (Mc Quiston, 1995) :
Roy memiliki delapan falsafah, empat berdasarkan falsafah prinsip humanisme dan empat berdasarkan prinsip falsafah veritivity.
falsafah humanisme/ kemanusiaan “mengenali manusia dan sisi subyektif manusia dan pengalamannya sebagai pusat rasa ingin tahu dan rasa menghargai”. Sehingga ia berpendapat bahwa seorang individu :
1. saling berbagi dalam kemampuan untuk berpikir kreatif yang digunakan untuk mengetahui masalah yang dihadapi, mencari solusi
2. bertingkahlaku untuk mencapai tujuan tertentu, bukan sekedar memenuhi hukum aksi-reaksi
3. memiliki holism intrinsik
4. berjuang untuk mempertahankan integritas dan memahami kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain veritivity. Berarti kebenaran, yang bermaksud mengungkapkan keyakinan Roy bahwa ada hal yang benar absolut. Ia mendefinisikan veritivity sebagai “prinsip alamiah manusia yang mempertegas tujuan umum keberadaan manusia”. Empat falsafah yang berdasarkan prinsip veritivity adalah sebagai berikut ini. Individu dipandang dalam konteks
1. tujuan eksistensi manusia
2. gabungan dari beberapa tujuan peradaban manusia
3. aktifitas dan kreatifitas untuk kebaikan-kebaikan umum
4. nilai dan arti kehidupan
bagian integral dari pelayanan kesehatan. Keperawatan menganggap klien sebagai pertner aktif, dalam arti perawat selalu bekerjasama dengan klien dalam pemberian asuhan keperawatan.
C. PARADIGMA KEPERAWATAN
1. Pengertian Paradigma
Paradigma keperawatan sebagai pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan(Masterman,1970).
Paradigma sebagai suatu perangkat bantuan yang memiliki nilai tanggi dan sangat menentukan bagi penggunanya untuk dapat memiliki pola dan cara pandang dasar kas dalam memikirkan,memyikapi dan memilih tindakan mengenai suatu kenyataan atau fenomena kehidupan manusia.
Ritzer dalam zamroni, membuat pengertian tentang paradigma yaitu pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut. (ahmad sihabudin dalam Jurnal Kampus Tercinta, 1996 : 43).
Paradigma keperawatan menurut Gaffar, 1997, adalah cara pandang yang mendasar atau cara kita melihat, memikirkan, memberi makna, mmenyikapi dan memilih tindakanterhadap berbagai fenomena yang ada dalam keperawatan. Dengan demikian paradigma keperawatan berfungsi sebagai acuan atau dasar dalam melaksanakan praktek keperawatan yang bersifat professional.
Penjelasan paradigma fakta sosial berasal dari pendapat Durkheim. Fakta sosial dianggap sebagai barang sesuatu yang berbeda dengan ide yang menjadi obyek penyelidikan seluruh ilmu pengetahuan dan tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni. Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia. Fakta sosial ini terdiri atas dua jenis, yaitu :
1. Bentuk material, berupa barang sesuatu yang dapat dilihat, ditangkap dan diobservasi,
2. Dalam bentuk non material, merupakan fenomena yang terkandung dalam diri manusia hanya muncul dalam kesadaran manusia (zamroni, 1992:24)
penjelasan paradigma definisi sosial bersumber dari karya Weber yang konsepsinya tentang fakta sosial sangat berbeda dengan konsep Durkheim. Weber tidak memisahkan antara struktur sosial dengan pranata sosial karena keduanya sama-sama membantu untuk membentuk tindakan manusia yang penuh makna (Zamroni, 1992 : 53)
KOMPONEN PARADIGMA KEPERAWATAN
1. Konsep manusia
Komponen ini merupakan komponen pertama sebagai salah satu fokus dari pelayanan keperawatan.manusia bertindak sebagai klien dalam konteks paradigma keperawatan ini bersifat individu,kelompok dan masyarakat daam suatu sistem.sistem tersebut dapat meliputi:
a.sistem terbuka,manusia dapat mempengaruhi dan di paengaruhi oleh lingkungan baik fisik,psikologis,sosial maupun spiritual sehingga proses perubahan pada manusia akan selalu terjadi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
b.sistem adaptif,manusia akan merespon terhadap perubahan yang ada di lingkungannya yang akan selalu menunjukkan perilaku adaptif dan maladaftif.
c.sistem personal,interpersonal dan social,manusia memiliki persepsi,pola kepribadian dan tumbuh kembang yang berbeda.
2. Konsep keperawatan
Konsep ini adalah suatu bentuk peleyanan kesehatan yang bersifat profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia yang dapat ditunjukkan kepada individu,keluarga atau masyarakat dalam rentang sehat sakit.dengan demikian konsep ini memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien dalam bentuk pemberian asuhan keperawatan adalah dalam keadaan tidak mampu,tidak mau dan tidak tahu dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar.
3. Konsep sehat sakit
Komponen ini memandang bahwa keperawatan itu bahwa bentuk pelayanan yang diberikan pada manusia dalam rentang sehat sakit.
Konsep Sehat (Travis and Ryan, 1998)
1. Sehat merupakan pilihan, suatu pilihan dalam menentukan kesehatan
2. Sehat merupakan gaya hidup, disain gaya hidup menuju pencapaian potensial tertinggi untuk sehat
3. Sehat merupakan proses, perkembangan tingkat kesadaran yang tidak pernah putus, kesehatan dan kebahagiaan dapat terjadi di setiap momen, ”here and now.”
4. Sehat efisien dalam mengolah energi, energi yang diperoleh dari lingkungan, ditransfer melalui manusia, dan disalurkan untuk mempengaruhi lingkungan sekitar.
5. Sehat integrasi dari tubuh, pikiran dan jiwa, apresiasi yang manusia lakukan, pikirkan, rasakan dan percaya akan mempengaruhi status kesehatan.
6. Sehat adalah penerimaan terhadap diri.
a. Rentang sehat
Rentang ini diawali dari status kesehatan sehat normal,sehat sekali dan sejahtera.dikatakan sehat bukan hanya bebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi aspek fisik,emosi,sosial dan spiritual.maka dapat diketahui karakteristik sehat sebenarnya adalah: pertama, memiliki kemampuan merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia;kedua, memiliki pandangan terhadap sehat dalam konteks lingkungan; dan ketiga, memiliki hidup yang kreatif dan produktif keyakinan terhadap kesehatan adalah pendapat, keyakinan, dan sikap seseorang terhadap sehat dan sakit. Keyakinan terhadap kesehatan didasarkan informasi yang faktual/kesalahan informasi, pikiran sehat/mitos, dan kenyataan atau harapan yang salah. Karena keyakinan terhadap kesehatan biasanya mempengaruhi perilaku sehat, maka keyakinan tersebut dapat berpengaruh secara positif/negatif terhadap tingkat kesehatan klien.
Keyakinan klien terhadap kesehatan bergantung pada beberapa faktor antara lain persepsi tentang tingkat sehat, faktor-faktor yang dapat di modifikasi seperti demografi(misal jenis dan tempat perumahan), kepribadian, dan persepsi terhadap keuntungan yang dapat diperoleh dari perilaku sehat yang positif. Faktor pengaruh stasus kesehatan, antara lain:
1.Perkembagan
Status kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor perkembangan yang mempuyai arti bahwa perubahan status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia.
2.Sosial dan Kultural
Hal ini dapat juga mempengaruhi proses perubahan bahan status kesehatan seseorang karena akan mempengaruhi pemikiran atau keyakinan sehingga dapat menimbulkan perubahan dalam perilaku kesehatan.
3.Pengalama Masa Lalu
Hal ini dapat mempegaruhi perubahan status kesehatan,dapat diketahiu jika ada pengalaman kesehatan yang tidak diinginkan atau pengalamam kesehatan yang buruk sehingga berdampak besar dalam status kesehatan selanjutya.
4.Harapan seseorang tentang dirinya
Harapan merupakan salah satu bagian yang penting dalam meningkatkan perubahan status kesehatan kearah yang optimal.
5.Keturunan
Keturunan juga memberikan pengaruh terhadap status kesehatan seseorang mengingat potensi perubahan status kesehatan telah dimiliki melalui faktor genetik.
6.Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik.
7.Pelayanan
Pelayanandapat berupa tempat pelayanan atau sistem pelayanan yang dapat mempengaruhi status kesehatan
b.Rentang sakit
Rentang ini dimulai dari keadaan setengah sakit,sakit,sakit kronis dan kematian.
Tahapan proses sakit
1.Tahap gejala
Merupakan tahap awal seseorang mengalami proses sakit dengan ditandai adanya perasaan tidak nyaman terhadap dirinya karena timbulnya suatu gejala.
2.Tahap asumsi terhadap sakit
Pada tahap inin seseorang akan melakukan interpretasi terhadap sakit yang di alaminya dan akan merasakan keraguan pada kelainan atau gangguan yang di rasakan pada tubuhnya.
3.Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan
Tahap ini seorang mengadakan hubungan dengan pelayanan kesehatan dengan meminta nasehat dari profesi kesehatan.
5.Tahap penyembuhan
Tahap ini merupakan tahapan terakhir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi,di mana srsrorang akan melakukan proses belajar untuk melepaskan perannya selama sakit dan kembali berperan seperti sebelum sakit.
4. Konsep lingkungan
Paradigma keperwatan dalam konsep lingkungan ini adalah memandang bahwa lingkunan fisik,psikologis ,sosial, budaya dan spiritual dapat mempengaruhi kebutuhan dasar manusia selama pemberian asuhan keperawatan dengan meminimalkan dampak atau pengaruh yang ditimbulkannya sehingga tujuan asuhan keperawatan dapat tercapai.

faktor-faktor teori WHO terhadap Prilaku Sehat


TEORI WHO

            WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berprilaku tertentu adalah :
1.      Pemikiran dan perasaan (thought and feeling)
yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadapobjek (objek kesehatan).
a.         Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
b.         Kepercayaan sering atau orang tua, kakek, atau  nenek. Seseorang  menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tannpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
c.         Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pun dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu pada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
2.      Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
3.    Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
4.      Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life), yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia. Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiaporang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan.Teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri).



Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan prilaku dikelompokan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1.      Perubahan alamiah (natural change), ialah perubaha yang dikarenakan karena perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas.
2.      Perubahan terencana (planned changer), ialah perubahan ini terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3.      Perubahan dari hal kesediannya untuk berubahan (readiness to cange), ialah perubahan yang terjadi apabila terhadap suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk perubaha yang berbeda-beda.

Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia danorang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka.
Ø  Orem mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:
1.      Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal):
kebutuhanyang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya sepertikebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan,eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan bahaya. Hal tersebutdibutuhkan manusia untuk perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaianterhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya.
2.      Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan)
kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalamsiklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yangdapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
3.      Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangankesehatan)
kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atauketurunan,kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara,struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya,diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, danintegritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care
.

Ø  Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:
1.      Human being (kehidupan manusia) : oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.
2.      Perkembangan manusia : dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan disetiap periode dalam daur hidup.
3.      Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal dan integrasi integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan  pengaturan untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.

Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:

1.      Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan).
2.      Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian)
3.      Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem dukungan/ pendidikan).

Teori Snehandu B.Kar
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari:
a)    Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya ( behaviour intention ).
b)   Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya ( social-support).
c)    Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of information).
d)   Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan ( personal autonomy).
e)    Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak( action situation).

Uraian diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:

B=f(BI, SS, AL, PA, AS)
Keterangan :
B= Behaviour
F= Fungsi
BI= Behaviour Intention
SS= Social Support
AI= Accessebility of Information
PA= Personal Autonomy
AS= Action Situation

Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyrakat ditentukan oleh niat orang terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitarnya, ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan, kebebasan dari individu untuk mengambil keputusan/bertindak, dan situasi yang memungkinkan ia berperilaku/bertindak atau tidak berperilaku/bertindak. Seseorang ibu yang tidak mau ikut KB, mungkin karena ia tidak ada minat dan niat terhadap KB ( behaviour intention ), atau barangkali juga karena tidak ada dukungan dari masyrakat sekitarnya ( social-support). Mungkin juga karena kurang atau tidak memperoleh informasi yang kuat tentang KB (accessebility of information), atau mungkin ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan, misalnya harus tunduk kepada suami, mertuanya atau orang lain yang ia segani ( personal autonomy). Faktor lain yang mungkin menyebabkan ibu ini tidak iku KB adalah karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya alasan kesehatan ( action situation).