Rabu, 13 Juni 2012

faktor-faktor teori WHO terhadap Prilaku Sehat


TEORI WHO

            WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berprilaku tertentu adalah :
1.      Pemikiran dan perasaan (thought and feeling)
yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadapobjek (objek kesehatan).
a.         Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
b.         Kepercayaan sering atau orang tua, kakek, atau  nenek. Seseorang  menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tannpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
c.         Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pun dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu pada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
2.      Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
3.    Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
4.      Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life), yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia. Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiaporang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan.Teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri).



Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan prilaku dikelompokan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1.      Perubahan alamiah (natural change), ialah perubaha yang dikarenakan karena perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas.
2.      Perubahan terencana (planned changer), ialah perubahan ini terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3.      Perubahan dari hal kesediannya untuk berubahan (readiness to cange), ialah perubahan yang terjadi apabila terhadap suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk perubaha yang berbeda-beda.

Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia danorang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka.
Ø  Orem mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:
1.      Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal):
kebutuhanyang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya sepertikebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan,eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan bahaya. Hal tersebutdibutuhkan manusia untuk perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaianterhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya.
2.      Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan)
kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalamsiklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yangdapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
3.      Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangankesehatan)
kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atauketurunan,kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara,struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya,diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, danintegritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care
.

Ø  Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:
1.      Human being (kehidupan manusia) : oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.
2.      Perkembangan manusia : dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan disetiap periode dalam daur hidup.
3.      Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal dan integrasi integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan  pengaturan untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.

Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:

1.      Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan).
2.      Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian)
3.      Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem dukungan/ pendidikan).

Teori Snehandu B.Kar
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari:
a)    Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya ( behaviour intention ).
b)   Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya ( social-support).
c)    Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of information).
d)   Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan ( personal autonomy).
e)    Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak( action situation).

Uraian diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:

B=f(BI, SS, AL, PA, AS)
Keterangan :
B= Behaviour
F= Fungsi
BI= Behaviour Intention
SS= Social Support
AI= Accessebility of Information
PA= Personal Autonomy
AS= Action Situation

Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyrakat ditentukan oleh niat orang terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitarnya, ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan, kebebasan dari individu untuk mengambil keputusan/bertindak, dan situasi yang memungkinkan ia berperilaku/bertindak atau tidak berperilaku/bertindak. Seseorang ibu yang tidak mau ikut KB, mungkin karena ia tidak ada minat dan niat terhadap KB ( behaviour intention ), atau barangkali juga karena tidak ada dukungan dari masyrakat sekitarnya ( social-support). Mungkin juga karena kurang atau tidak memperoleh informasi yang kuat tentang KB (accessebility of information), atau mungkin ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan, misalnya harus tunduk kepada suami, mertuanya atau orang lain yang ia segani ( personal autonomy). Faktor lain yang mungkin menyebabkan ibu ini tidak iku KB adalah karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya alasan kesehatan ( action situation).

Sabtu, 09 Juni 2012

Non Dera Idol - Audisi (LUCU)

Non Dera nhy kren banget dhaa,, suaranya yunik abeeess.. bawa bakso juga lho buat mas Dhani untuk npatin janjinya saat di sukabumi Bus audisi Indonesian Idol kmrin..
lucu juga nhy saat dia duduk karna kursinya muter-muter buat dia gak nyaman brnyanyi :D
yang pasti Non Dera tlah brhasil memikat Seorang Agnes Monica dan Non Dera pun tlah menjadi Favorit Agnes Monica,, waw hebaaaattt..
congrat buat derasenyumsamping buat si Nunapisang :D
nhy vidionya : http://www.youtube.com/watch?v=-o0Bk2PvOes&feature=related

Jumat, 01 Juni 2012

Pemuda dan Sosialisasi


Tugas ISD Kelompok 3
            Ketu Kelompok         : I Ketut Agus Hida Purwadi (PSIK A)
            Penulis                        : Haedar Putra (PSIK A)
            Anggota kelompok    :
Ø  Desilia Puspita (PSIK A)
Ø  Hafif Rohman (PSIK A)
Ø  Juliana (PSIK A)
Ø  Sholikul Mutohar (PSIK B)
Ø  Wahyu Tri Astuti (PSIK B)
Ø  Wahyu Wiji Lestari (PSIK B)

Pemuda dan Sosialisasi

Definisi Pemuda
            Pemuda adalah golongan manusia-manusia mudah yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan diri ke arah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pengembangan yang kini telah berlangsung.
            Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, penerus tradisi, penerus kebudayaan dan merupakan calon pengganti generasi terdahulu. Sudah seharusnya pemuda di bina dan di siapkan sebaik-baiknya. Karena pemuda adalah aset terbesar sebuah bangsa.

Kategori Manusia Indonesia
·       Dilihat dari segi budaya atau fungsionalnya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa dengan perincian sebagai berikut :
ü  Masa bayi : 0 – 1 tahun
ü  Masa anak : 1 – 12 tahun
ü  Masa puber : 12 – 15 tahun
ü  Masa pemuda : 15 – 21 tahun
ü  Masa dewasa : 21 tahun keatas.

·       Dilihat dari segi budaya atau  fungsionalnya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa, dengan perincian sebagai berikut :
ü  Golongan anak : 0 – 12 tahun
ü  Golongan remaja : 13 – 18 tahun
ü  Golongan dewasa : 18 (21) tahun keatas.

·       Usia 0 – 18 tahun adalah merupakan sumber daya manusia muda, 16 -  21 tahun keatas dipandang telah memiliki kematangan peribadi dan 18 (21) diperbolehkan untuk menjadi pegawai baik pemerintah maupun swasta.
·       Dilihat dari segi idiologis politis, generasi muda adalah mereka yang berusia 18 – 30 – 40 tahun, karena merupakan calon pengganti calon generasi terdahulu.
·       Pengertian pemuda berdasarkan umur lembaga dan serta ruang lingkup tempat pemuda berada terdiri atas 3 kategori yaitu :
1.      Siswa, usia antara 6 – 18 tahun, masi duduk dibangku sekolah.
2.      Mahasiswa antara 18 – 25 tahun, berada di perguruan tinggi dan akademi.
3.      Pemuda diluar lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi yaitu mereka yang berusia 15 – 30 tahun keatas.

Peran Pemuda
            Peran pemuda dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan tuntutan lingkungan. Pemuda dalam hal ini dapat berperan sebagai penerus tradisi dengan jalan menaati tradisi yang berlaku.
2.      Didasarkan usaha menolak meyesuaikan diri dengan lingkungan. Peran pemuda jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu :
a.       Pemuda “ pembangkit” mereka adalah pengurai atau  pembuka kejelasan dari suatu masalah sosial. Mereka secara tidak langsung mengudah masyarakat dan kebudayaan.
b.      Pemuda nakal, mereka tidak berniat mengadakan perubahan, baik budaya maupun pada masyarakat, tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan  melakukan tindakan menguntungkan bagi dirinya sekalipun dalam kenyataannya merugikan.
c.       Pemuda Radikal, mereka berkeinginan besar untuk mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner.

Kedudukan Pemuda
            Kedudukan pemuda dalam  masyarakat adalah sebagai :
1.      Mahluk Moral, artinya beretika, bersusila, dijadikan sebagai barometer moral kehidupan bangsa dan prngoreksi.
2.      Sebagai Mahluk Sosial artinya pemuda tidak dapat berdiri sendir, hidup bersama-sama, dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma, kepribadian dan pandangan hidup yang dianut masyarakat.
3.      Sebagai Mahluk Individual artinya tidak melakukan kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi disertai oleh ras tanggung  jawab terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat, terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sosialisasi Pemuda

·         Melalui proes sosialisasi, seorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.dengan demikian tingkah laku manusia dapat di ramalkan. Dengan proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti harus bertingkah laku ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya.
·         Dalam hal ini sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan meyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berfikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompknya. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dan anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial.
·         Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan dan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Berbeda dengan inkulturasi yang mementingkan nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan dalam jiwa individu, sosialisasi dititik beratkan pada soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya.
·         Kesadaran terhadap diri sendiri membuat timbulnya sebutan “aku” atau  “ saya” sebagai kedirian subyektif yang sulit dipelajari. Asal mula kedirian :
1.      Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya ; atau sebaliknya,  dia disayangi, baik budi dan dapat dipercaya.
2.      Dalam proses sosialisasi juga dapat membentuk pendirian yang ideal. Orang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus ia lakukan agar dapat memperoleh penghargaan dari orang lain.

Internalisasi, Belajar dan Spesialisasi

·         Ketiga kata atau istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Peroses berlangsungnyan sama yaitu melalui interaksi sosial.
ü  Istilah internalisasi lebih ditekankan pada norma-norma individu yang menginternalisasikan norma-norma tersebut.
ü  Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku, yang semula tidal dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seseorang individu.


Interkasi Sosial

A.     Keluarga
Ø  Pertama – tama yang dikenal oleh anak-anak adalah ibunya, bapaknya dan saudara-saudaranya. Kebijaksanaan orang tua yang baik dalam proses sosialisasianak, antara lain :
1.      Berusaha dekat dengan anak-anaknya
2.      Mengawasi dan mengendalikansecara wajar agar anak tidak merasa tertekan
3.      Mendorong anak agar mampu  membedakan benar dan salah, baik dan buruk
4.      Memberikan keteladan yang baik
5.      Menasehati anak-anak jika melakukan  kesalahan-kesalahan dan tidak menjatuhkan  hukuman diluar batas kewajaran
6.      Menanamkan nilai-nilai religi baik dengan mempelajari agama maupun menerpakan ibadah  dalanm  keluarga.

B.   Sekolah
Ø  pendidikan disekolah merupakan wahana sosialisasi sekunder dan merupakan tempat berlangsungnya peroses sosialisasi secara formal. Robert Dreeben berpendapat bahwa yang dipelajari seseorang anak disekolah tidak hanya membaca, menulis, dan berhitung saja namun juga mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement) dan kekhasan  / spesifitas (specyfity).

C.  Teman Bermain (kelompok)

Ø  Kelompok bermain mempunyai pengaruh yang besar dan berperan kuat dalam pembentukan kebribadian anak. Dalam  kelompok bermain anak akan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya.

D.  Media Masa
Ø  Media masa seperti media cetak, radio, film, dan vidio. Besarnya pengaruh media masa sangat tergantung dari kualitas dan frekuensi pesan  yang disampaikan.

E.   Lingkunga Kerja
Ø  Lingkungan kerja merupakan media sosialisasi yang terakhir cukup kuat dan efektif mempengaruh pembentukan kepribadian seseorang.

Faktor-Faktor Interaksi Sosial
1.      Imitasi
Ø  Imitasi adalah proses social atau tindakan seseorang yang meniru orang lain melaui sikap, penampilan atau gaya hidup, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain.
a.       Dalam lingkungan keluarga
Contohnya : cara berbicara
b.      Dalam lingkungan masyarakat
Contihnya : gaya rambut dan pakaian
2.      Sugesti
Ø  Sugesti adalah rangsangan, pengaruh atau stimulasi yang diberikan oleh seseorang individu kepada individu lainnya, sehinggga orang yang diberi sugesti melakdanakan apa yang disugestikannya tanpa berpikir lagi secara kritis dan rasional.
Ø  Sugesti terbentuk berasal dari orang-orang yang berwibawa, kekuasaan, maupun pengaruh besar, dalam lingkungan sosial. Misalnya, ulama, ketua adat, cendikiawan, sesepuh kampung, dan sebagainya.
Ø  Sugesti akan berlangsung cepat  atau lam bat dipengaruhi oleh hal-hal berikut :
a.       Usia
b.      Kemampuan intelektual
c.       Keadaan fisik
d.      Kepribadian
Ø  Orang untuk tersugesti diantaranya sebagai berikut :
a.       Kurang bersikap kritis
b.      Berpendidikan rendah
ü  Pemberi sugesti mempunya otoritas. Contohnya nasihat ulama akan lebih didengar dan dipatuhi dari pada nasihat tokoh intelektual.
c.       Orang yang dalam keadaan ragu-ragu
3.      Identifikasi
4.      Simpati
5.      Empati
6.      Motivasi

Masalah-masalah Generasi Muda
1.      Menurunnya jiwa nasionalisme, idealisme dan patriotisme di kalangan generasi muda
2.      Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya
3.      Belum seimbangnya jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia
4.      Kurangnya lapangan dan kesempatan kerja.
5.      Kurangnya gizi yang dapat menghambat pertumbuhan badan dan perkembangan kecerdasan.
6.      Masih banyaknya perkawinan-perkawinan di bawah umur.
7.      Pergaulan bebas.
8.      Adanya generasi muda yang menderita fisik dan mental
9.      Meningkatnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika.
10.  Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menyangkut generasi muda.

Pendidikan dan Perguruan Tinggi

Ø  Pendidikan  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar seperti didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Ø  Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggaraan pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa. Sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen.
ü  Mrurut jenisnya, perguruan tinggi dibagi menjadi dua :
1.      Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang pengolaan dan regulasinya dilakukan oleh negara,
2.      Perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi yang pengolaan dan regulasinya dilakukan oleh swasta.

Jumat, 25 Mei 2012

Agama Dan Kesehatan Mental


BAB I
PENDAHULUAN

            Pada zaman dahulu ketika teknologi belum dikenal oleh masyarakat umum secara luas, setiap penyakit yang diderita oleh manusia sering sekali dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau sepiritual dan alam gaib, setiap penyakit dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau mahluk halus, oleh karena itu orang-orang banyak yang pergi berobat ke dukun atau orang pintar yang bisa langsung berkomunikasi dengan mahluk halus itu sendiri ketimbang harus berobat ke tabib yang mengerti tentang jenis penyakit berdasarkan ilmu pengobatan.
           Pergeseran zaman dan kemajuan teknologi tidak dapat dipungkiri lagi, saat ini penyakit sudah dilihat dan diobati dengan obat-obatan yang bagus dengan menggunakan metode pengolahan canggih, perkembangan ilmu pengetahuan dapat lebih menspesifikkan penyakit-penyakit tersebut. Ada penyakit yang bersumber dari virus, bakteri atau baksil-baksil sehingga untuk mengobatinya perlu pengobatan medis, tetapi ada juga penyakit yang bersumber dai jiwa atau hati suatu individu, jadi secara fisik individu trsebut dan tidak terkena virus, bakteri atau baksil-baksil, namun pada kenyataannya individu tersebut sakit.
           Penyakit tersebut yang dinamakan dengan penyakit hati atau prnyakit mental, untuk mengatasi penyakit tersebut diperlukan menejemen hati atau mental yang baik sehingga dapat membentuk kesehatan mental yang berimbas pada kesehatan secara fisik individu trebut. Pada makalah ini saya akan menyampaikan tentang beberapa pengertian tentang Agama dan Kesehatan Mental.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Kesehatan Mental

Istilah dari kesehatan mental diambil dari konsep mental Hygiene, kata mental berasal dari bahasa yunani yang artinya kejiwaan. Kata mental memiliki persamaan makna dengan kata Pshye yang berasal dari bahasa latin yang berarti psikis atau jiwa, dapat diambil kesimpulan bahwa bahwa mental Hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental, baik berupa Neurosis maupun Psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial).
            Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (penyebab terjadinya stres) orang yag memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan ligkungannya. (Noto Soedirdjo, 1980) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki kesehatan mental adalah memiliki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang terhadap Stressor berbeda-beda karena faktor genetik, proses belajar dan budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh seseorang dengan orang lain juga berbeda.

          B. Ciri-ciri Kesehatan Mental

          Ciri-ciri kesehatan mental dikelempokkan kedalam enam kategori, yaitu :
1.      Memiliki sikap batin (Attidude) yag posotif terhadap dirinya sendiri.
2.      Aktualisasi diri
3.      Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis.
4.      Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri).
5.      Memiliki persepsi yang obyektif  terhadap realitas yang ada.
6.      Mampu melaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).

Pada abad ke-17 kondisi suatu pasien yang sakit hanya diidentifikasi dengan medis, namun pada perkembangannya pada abad 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia.
Hubungan timbal balik ini menyebabkan manusia menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (Somapsikotok) dan sebaliknya gangguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (Psikomatik).
Memasuki abad 19 konsep kesehatan mental mulai berkembang tentang kesehatan mental masi bersifat sekuler, pusat perhatia dan kajian dari kesehatan mental tersebut adalah kehidupan di dunia, pribadi yang sehat dalam menghadapi masalah dan menjalani kehidupan hanya berioritasi pada konsep sekarang ini dan disini, tanpa memikirkan adanya hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Hal ini jauh berbeda dengan konsep kesehatan berlandaskan agama yang memiliki konsep jangka panjang dan tidak hanya berorientasi pada masa kini sekarang serta disini, agama dapat memberi dampak yang cukup  berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan.
Orang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri. Solusi terbaik dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan mental adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan seseorang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT, serta mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.
Hal ini dapat ditarik kesimpulan karena pada dasarnya hidup adalah proses penyesuaian diri terhadap seluruh aspek kehidupan, orang yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan gagal dalam menjalani kehidupannya. Manusia diciptakan untuk hidup bersama, masyarakat, saling membutuhkan satu sama lain dan selalu berinteraksi, hal ini dengan konsep sosiologi modern yaitu manusia sebagai mahluk Zoon Politicon.

C. Gangguan mental

Gangguan mental dapat dikatakan sebagai prilaku abnormal atau prilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dimasyarakat, prilaku tersebut baik yang berupa pikiran, perasaan maupun tindakan. Stress, depresi dan alkoholik tergolong gangguan mental karena adanya penyimpangan, hal ini dapat disimpulkan bahwa ganguan mental memiliki titik kunci yaitu menurunnya fungsi mental dan berpengaruhnya pada ketidak wajaran dalam berprilaku ini sesuai dengan Al-Qur’an (QS. Al0Baqaroh 2 : 10).
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Artinya : Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebaban mereka berdusta.
Yakni keyakinan mereka terhadap kebenaran Nabu Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu menimbul kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang islam.

Adapun gangguan mental yang dijelaskan oleh (A. Scott, 1961) meliputi beberapa hal :
1.         salah dalam penyesuaian sosial, orang yang mengalami gangguan mental perilakunya bertentangan dengan kelompok dimana dia ada.
2.         Ketidak bahagiaan secara obyektif.
3.         Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan.
4.         Sebagian penderita gangguan mental menerima oengibatan psikiatris dirumah sakit, namun ada sebagian yang tidak mendapat pengobatan tersebut.

Seseorang yang gagal dalam neradaptasi secara positif dengan lingkungannya dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas kemampuan pribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar pengertian ini tentunya tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan mental pada seseorang, karena selain mengetahui potensi individunya juga harus melihat konteks sosialnya.

D. Agama dan Kesehatan Mental

Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yag disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungam masing-masing. Namun untuk menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan kelihatannya sulit dilakukan, hal ini karena manusia ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada zat yang gaib, ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (self) ataupun hati nurani (conscience of man).
Fitra manusia sebagai mahluk Allah SWT ialah  manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan, seperti ada dalam (QS Ar Ruun 30:30)
Artinya : Maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus keagama Allah; (tataplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut itu. Tidak ada perubahan pada fitra Allah. (itukah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [1168],
[1168] Fitra Allah : maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan allah mempunyai aluri beragama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

E. Agama sebagai Terapi Kesehatan Mental

agama sebagai terapi kesehatan mental dalam islam sudah ditunjukan secara jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya yang menbahas tentang ketenangan dan kebahagiaan adalah (QS An Nahl 16:97)
Artinya : 97. Barang siapa yang mengerjakan amal saleh,baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik [839] dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
[839] ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disrtai iman, (QS Ar Ra’ad 13:28)
Artinya : 28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.



BAB III
PENUTUP

kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental, baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) Orang yag sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.
Agama tampaknya tidak dapat dipsahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kebribadian maupun lingkungan masing-masing. Fitrah manusia sebagai ciptaan Allah SWT ialah manusia tidak beragam tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya pengaruh lingkungan.
Hubungan antara keiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi sehingga akan dapat memunculkan perasaan positif pada kesehatan mental seseorang.

Minggu, 20 Mei 2012

Memahami akan bahanya penyakit menular dan penyakit infeksi


Dalam medis, penyakit menular ataupun penyakit infeksi yang terjadi pada manusia ataupun hewan adalah sebuah penyakit yang di sebabkan oleh para agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan yang disebabkan oleh fisik yang sering di eluh-eluh kan oleh setiap orang saat sakit atau badan yang tidak fit, seperti luka bakar, atau karna bakan kimia seperti keracunan.


Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing yang masuk ke dalam tubuh manusia terhadap organisme Inang, dan yang bersifat sangat membahayakan inang. Organisme dalam penginfeksian atau patogen yang dilakukan menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak dirinya yang akhirnya dapat merugikan inang. patogen ini dapat mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakit pada luka kronik, bahkan adanya kehilangan anggota tubuh, dan bahkan kematian yang di alami oleh setiap penderita. Respon inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen pada umumnya dikategirikan sebagai organisme mikroskopik, walau sebenarnya defininya lebih luas lagi, mencakup bakteri, virus, parasit, fungi, prion, dan viroid.


Simbisis antara parasit dan inang, dimana satu pihak di untungkan dan satu pihak yang satunya lagi dirugikan, digolongkan sebagai parasitisme. Cabang kedokteran yang menitik beratkan infeksi dan patogen adalah cabang dari penyakit infeksi.


Infeksi awal yang sering terjadi :
Setelah menembus jaringan, patogen dapat berkembang pada di luar sel tubuh (ekstraseluler) atau menggunakan sel tubuh sebgai inangnya (intraseluler). Patogen intraseluler dapat di klasifikasikan lebih lanjut.
> patogen yang berkembang biak  dengan bebas di salam sel, seperti virus dan beberapa bakteri.
> patoge yang berkembang biak dalam vesikel, seperti mycobakteria.


Terpuruknya mekanisme sistem kekebalan :


Pada tahan umum sebuah infeksi, antigen selalu akan memicu sistem kekebalan turunan, dan kemudian sistem kekebalan tiruan pada saat akut. tetapi lintasan infeksi  tidak selalu demikian, sistem kekebalan selalu dapat gagal memadamkan infeksi, karena terjadi fokus infeksi berupa :


> subversi sistem kekebalan oleh patogen
> kelainan bawaan yang disebablan oleh gen
> tidak terkendalinya mekanisme sistem kekebalan


Perambatan perkembangan patogen bergantung pada kemampuan replikasi di dalam inangnya dan kemudian menyebar ke dalam inangnya yang baru dengan proses infeksi. untuk itu, patogen diharuskan untuk berkembangbiak tanpa harus memicu sistem kekebalan, atau dengan kata lain, patogen harus tidak menggerogoti inangnya dengan terlalu cepat.


Patogen yang dapat bertahan hanya patogen yang telah mengembangkanmekanisme untuk menghindari terpicunya sistem kekebalan.

Berikut adalah beberapa macam dari penyakit yang menular, khususnya penyakit yang menular pada musim hujan :


1. Flu => merupakan penyakit yang paling umum dan sering menyerang tubuh kita pada saat musim hujan. Jika udara dingin dan tidak di imbangi dengan pola hidup yang sehat dan baik, tentunya tubuh kita akan rentan terhadap penyakit.


2. Demam Berdarah => merupakan menyakit yang sering muncul pada musim hujan yang dikarenakan lingkungan hidup yang kurang bersih juga, hal ini dimanfaatkan oleh para nyamuk untuk bersarang, tentunya akan berhimbas pada banyaknya nyamuk, terutama nyamuk AIDES, nyamuk ini sangat sering muncul pada musim hujan, satu gigtan saja sudah cukup untuk menyebarkan virus demam berdarah.


3. Dare => penyakit ini juga sering muncul yang dikarenakan oleh pengaruh cuaca yang tidak nyaman atau pun dalam musim hujan. Air kotor yang telah tercemar oleh bakteri dapat membuat perut menjadi terasa mual dan dilanjutkan dengan rasa ingin buang air besar bekali-kali.


4. Muntaber => penyakit yang terakhir ini bisa dikatakan yang paling parah dari semua dan mematikan. Penderita penyakit muntaber dapat kekurangan cairan tubuh dengan cepat, apalagi sudah menimpa anak-anak dan bayi.